Katsuwonus pelamis


Tuna cakalang SKJ
Ciri tubuh:
Warna:

Hitam keunguan di bagian atas, bagian samping dan perut berwarna perak dengan 4–6 garis memanjang gelap yang khas.

Ukuran:

TL hingga 110 cm, dan beratnya hingga 34,5 kg.1

Distribusi:

Menyebar di perairan tropis dan perairan bersuhu hangat.

Lihat peta penyebaran FAO

Habitat:

Zona pelagik dekat pantai hingga oseanik. Ditemukan di perairan yang lebih hangat dari 15°C dan pada kedalaman dari permukaan hingga 260 m.

Biologi:

Memangsa ikan, krustasea, dan sefalopoda, dimangsa oleh ikan pelagik yang lebih besar. Berada dalam jumlah besar dan membentuk kelompok besar. Ukuran kedewasaan pertama betina diperkirakan antara FL 39,9–50 cm,2, 3 dengan hampir semua betina dianggap dewasa pada FL 59 cm.3 Di Samudra Pasifik timur, semua betina yang berusia 16 bulan atau lebih diduga sudah dewasa.4 Di Samudra Hindia barat Katsuwonus pelamis melakukan pemijahan sepanjang tahun dengan 2 puncak pemijahan aktif selama musim hujan utara dan selatan.5 Periode pemijahan aktif menjadi lebih pendek jika semakin jauh jaraknya dari khatulistiwa. Kesuburan meningkat sesuai ukuran ikan, jumlah telur yang dihasilkan per musim oleh betina dengan FL 41-87 cm berkisar antara 80.000–2.000.000. Ini adalah spesies produktif yang tumbuh cepat, sangat subur, dan berumur pendek, dengan perkiraan usia maksimum antara 6-8 tahun.6

Perikanan Indonesia:

Paling sering tertangkap menggunakan pukat cincin dan penangkapan pancing gandar.

Spesies serupa:

Euthynnus affinis
Tongkol, Timphik

Euthynnus affinis dikatakan berbeda karena tidak ada garis-garis pada perut, tetapi biasanya ada 3 bintik antara pangkal sirip dada dan sirip perut (vs 4–6 garis hitam yang memanjang pada perut); serangkaian garis-garis gelap miring pada daerah punggung yang tak bersisik (vs tidak ada corak), dan 43–48 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 53–63).

Sarda orientalis
Bonito bergaris

Sarda orientalis dikatakan berbeda karena memiliki 5–11 garis gelap sempit di bagian atas (vs 4–6 garis hitam memanjang yang khas di bagian bawah); lidah memiliki 2 tonjolan memanjang (vs tidak ada tonjolan atau gigi); tubuh tertutup sisik kecil di belakang korselet yang bersisik cukup besar (vs tubuh tidak bersisik di belakang korselet yang bersisik), dan 8–13 penyapu insang pada lengkungan insang pertama (vs 53–63).

Tautan internal:
Tautan external:
Referensi:
  1. Collette BB, Nauen CE. FAO species catalogue. Volume 2. Scombrids of the world. An annotated and illustrated catalogue of tunas, mackerels, bonitos and related species known to date. 1983.
  2. Batts BS. Sexual Maturity, Fecundity, and Sex Ratios of the Skipjack Tuna, Katsuwonus pelamis (Linnaeus), in North Carolina Waters. Transactions of the American Fisheries Society. 1972;101(4):626–37.
  3. Grande M, Murua H, Zudaire I, Goni N, Bodin N. Reproductive timing and reproductive capacity of the Skipjack Tuna (Katsuwonus pelamis) in the western Indian Ocean. Fisheries Research. 2014;156:14–22.
  4. Maunder MN, Harley SJ. Status of skipjack tuna in the eastern Pacific Ocean in 2003 and outlook for 2004. Inter-Amer Trop Tuna Comm, Stock Assessment Report. 2005;5:109–67.
  5. Stéquert B, Rodriguez JN, Cuisset B, Le Menn F. Gonadosomatic index and seasonal variations of plasma sex steroids in skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) and yellowfin tuna (Thunnus albacares) from the western Indian ocean. Aquatic Living Resources. 2001;14(5):313–8.
  6. Collette BB, Cole K. Reproduction and development in epipelagic fishes. Reproduction and sexuality in marine fishes: patterns and processes University of California Press, Berkeley. 2010;21–63.