Thunnus orientalis


Tuna sirip biru pasifik PBF
Ciri tubuh:
Warna:

Biru tua/hitam di bagian atas bergradasi menjadi perak/putih di bagian samping dan bawah. Bintik-bintik putih/perak muncul membentuk serangkaian barisan di bagian punggung dan perut pada tubuh bagian bawah. Finlet kuning; sirip dubur dan sirip punggung kedua berwarna kuning. Lunas ekor hitam.

Ukuran:

FL hingga 300 cm dan beratnya hingga 450 kg.

Distribusi:

Sebagian besar ditemukan di perairan beriklim sedang tetapi juga perairan tropis di Samudra Pasifik, terutama di Pasifik Utara.

Lihat peta penyebaran FAO

Habitat:

Zona pelagik oseanik. Tahan pada kisaran suhu yang luas dan ditemukan pada kedalaman dari permukaan hingga 550 m.1

Biologi:

Kebanyakan memangsa ikan gerombolan atau cumi-cumi, juga makan krustasea sesil. Berkelompok berdasarkan ukuran dengan spesies sejenis dan skombride lainnya. Mencapai kedewasaan pada FL 100–150 cm, pada usia sekitar 3–5 tahun.2 Ukuran 50% kedewasaan dicapai antara FL 102–135 cm.3Usia maksimum dapat mencapai 26 tahun.4

Perikanan Indonesia:

Terkadang tertangkap menggunakan alat tangkap rawai.

Spesies serupa:

Thunnus alalunga
Albakora

Thunnus alalunga dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada yang sangat panjang, memanjang hingga mencapai sirip punggung kedua (vs pendek yang tidak mencapai sela punggung); dan corak tubuh berupa garis putus-putus horizontal hingga miring berwarna putih/perak hanya muncul pada spesimen hidup dalam keadaan stres dan baru saja mati (vs garis vertikal dan garis bintik-bintik yang bergantian berwarna putih/perak).

Thunnus albacares
Tuna Sirip Kuning, Gelang Kawung, Madidihang

Thunnus albacares dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada yang panjangnya sedang, tidak memanjang melebihi ruang antar sirip punggung (vs pendek, tidak melebihi ruang antar sirip punggung); corak tubuh putih/perak berbentuk garis vertikal berspasi teratur dan garis-garis bintik yang bergantian dalam pola ‘V’ (vs corak putih/perak berupa garis vertikal dan garis bintik-bintik yang bergantian, sebagian besar terbatas pada bagian tubuh bawah), dan permukaan ventral dari hati tidak berlurik, lobus kanan memanjang (vs berlurik, lobus kira-kira sama panjangnya).

Thunnus maccoyii
Tuna sirip biru selatan

Thunnus maccoyii dikatakan berbeda karena memiliki serangkaian corak putih/perak berupa garis vertikal dan garis bintik-bintik yang bergantian, sebagian besar terbatas pada bagian tubuh bawah (vs garis vertikal terpecah atau putus-putus yang berspasi tidak beraturan berwarna putih/perak hanya muncul pada spesimen hidup dalam keadaan stres, jika tidak, maka akan berwarna perak/putih di bagian bawah), dan lunas median kuning pada ikan dewasa (vs abu-abu).

Thunnus obesus
Tuna matabesar

Thunnus obesus dikatakan berbeda memiliki sirip dada yang sangat panjang, melebihi sirip punggung kedua, ujung meruncing tipis dan fleksibel (pada ikan dewasa) (vs pendek, tidak mencapai ruang antar sirip punggung); serangkaian corak tubuh berupa garis dengan spasi tidak teratur, vertikal, kadang-kadang putus-putus (vs corak putih/perak berupa garis vertikal dan garis bintik-bintik yang bergantian, sebagian besar terbatas pada bagian tubuh bawah).

Thunnus tonggol
Tuna ekor panjang, Tuna abu-abu

Thunnus tonggol dikatakan berbeda karena memiliki sirip dada yang panjangnya sedang, tidak mencapai pangkal sirip punggung kedua (vs pendek, tidak mencapai ke ruang antar sirip punggung); bagian belakang tubuh (dari titik margin posterior opercle terpanjang ke tangkai ekor) relatif panjang dibanding FL (vs sedang); garis bintik-bintik putih/perak horizontal yang memanjang pada perut (vs corak putih/perak berupa garis vertikal dan garis bintik-bintik yang bergantian, sebagian besar terbatas pada bagian tubuh bawah), dan permukaan ventral hati tidak berlurik, lobus kanan memanjang (vs berlurik, panjang lobus kira-kira sama).

Tautan external:
Referensi:
  1. Collette BB, Nauen CE. FAO species catalogue. Volume 2. Scombrids of the world. An annotated and illustrated catalogue of tunas, mackerels, bonitos and related species known to date. 1983.
  2. Tanaka Y, Satoh K, Iwahashi M, Yamada H. Growth-dependent recruitment of Pacific bluefin tuna Thunnus orientalis in the northwestern Pacific Ocean. Marine Ecology Progress Series. 2006;319:225–35.
  3. Collette BB, Cole K. Reproduction and development in epipelagic fishes. Reproduction and sexuality in marine fishes: patterns and processes University of California Press, Berkeley. 2010;21–63.
  4. Shimose T, Tanabe T, Chen K-S, Hsu C-C. Age determination and growth of Pacific bluefin tuna, Thunnus orientalis, off Japan and Taiwan. Fisheries Research. 2009;100(2):134–9.